Catatan Penulis:
Cerita ini adalah karya fiktif semata. Seluruh nama tokoh, tempat, latar,
profesi, maupun alur kejadian disusun untuk kepentingan refleksi moral dan
tidak merujuk kepada individu, kelompok, lembaga, atau peristiwa tertentu.
Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, atau latar belakang, hal tersebut
merupakan kebetulan dan tidak disengaja.
Di sebuah kota yang terus berkembang, hiduplah seseorang
yang biasa dipanggil Fulan.
Fulan dikenal sebagai sosok yang sangat berhati-hati
terhadap urusan riba. Dalam setiap percakapan, ia sering mengingatkan
teman-temannya tentang pentingnya menjaga keberkahan harta. Ia menolak cicilan
berbunga, menunda membeli rumah bertahun-tahun, bahkan memilih hidup sederhana
agar tidak terjerumus pada sesuatu yang menurutnya mendekati riba.
Orang-orang menghormatinya.
“Kalau soal menjaga harta, contoh saja Fulan,” kata mereka.
Fulan bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar. Di
sana, sebagaimana tempat lain yang dijalankan oleh manusia, selalu ada
ruang-ruang abu-abu.
Ada anggaran yang dibulatkan lebih besar.
Ada fasilitas yang perlahan berubah menjadi keuntungan pribadi.
Ada pengeluaran yang tidak selalu kembali utuh.
Ada keputusan-keputusan yang tampak biasa karena dilakukan berulang.
Awalnya Fulan merasa tidak nyaman.
Namun lama-kelamaan ia belajar satu kalimat yang sering
terdengar di sekitarnya:
“Jangan suudzon.”
Ketika seseorang mempertanyakan angka yang terlalu tinggi:
“Jangan suudzon, mungkin memang segitu biayanya.”
Ketika ada laporan yang terasa tidak wajar:
“Jangan suudzon, itu sudah disetujui.”
Ketika fasilitas perusahaan mulai dipakai untuk kepentingan
pribadi:
“Jangan suudzon, semua orang juga melakukannya.”
Fulan merasa tenang.
Baginya, selama ia tidak mengambil pinjaman berbunga, selama
ia tidak membeli rumah dengan skema yang ia anggap bermasalah, maka ia sedang
menjaga dirinya.
Waktu berjalan.
Perlahan ia mulai menerima hal-hal yang dulu terasa
mengganggu.
Bukan dalam jumlah besar.
Bukan dengan tindakan yang dramatis.
Tetapi sedikit demi sedikit.
Ia tidak pernah menyebutnya mengambil.
Ia menyebutnya:
“Memanfaatkan kesempatan.”
“Atau sekadar hak yang belum tertulis.”
Tahun demi tahun berlalu.
Keadaan ekonominya membaik.
Ia membeli rumah secara tunai.
Tidak menggunakan bantuan pembiayaan.
Tidak memakai subsidi.
Hidupnya terlihat mapan.
Orang-orang mulai mengaguminya.
Lalu suatu hari, sebuah komunitas mengundangnya menjadi
pembicara.
Tema acaranya:
“Hidup Mandiri Tanpa Riba.”
Fulan berdiri di depan banyak orang.
Ia berbicara tentang kesabaran.
Tentang menjaga keberkahan.
Tentang menahan keinginan.
Tepuk tangan terdengar.
Di barisan belakang, seorang pendengar muda bertanya pelan
kepada temannya:
“Kalau seseorang sangat menjaga satu jalan agar hartanya
tidak tercampur, tetapi membiarkan jalan lain terbuka… apakah hasil akhirnya
tetap sama?”
Temannya tidak menjawab.
Malam itu Fulan pulang.
Ia berhenti sejenak di depan rumah yang selama ini menjadi
simbol perjuangannya.
Di gerbang rumah tertulis:
‘Rumah Tanpa Riba.’
Untuk pertama kalinya muncul pertanyaan yang belum pernah ia
izinkan masuk:
Apakah selama ini aku hanya menjaga cara membelanjakan
harta… tetapi lupa memeriksa cara memperolehnya?
Tidak ada jawaban malam itu.
Hanya keheningan.
Dan terkadang, keheningan yang jujur lebih berharga daripada
seribu pembenaran.
![]() |
| Gambar Ilutrasi |
Pesan Moral
Setiap orang memiliki titik buta.
Ada yang sangat berhati-hati terhadap kesalahan yang
terlihat jelas, tetapi menjadi longgar terhadap pelanggaran yang dibungkus
budaya, kebiasaan, atau alasan yang terdengar baik.
Prasangka buruk memang tidak patut dipelihara.
Tetapi kehati-hatian dan evaluasi juga bukan bentuk suudzon.
Sebab menjaga keberkahan bukan hanya tentang bagaimana harta
digunakan, melainkan juga bagaimana harta diperoleh.
Dan kadang, seseorang terlalu fokus menjaga satu
gerbang—hingga lupa memeriksa pintu yang lain.







0 komentar:
Post a Comment